Posted by: Denny Sumargo | 8 August 2011

Hanya Orang Baik yg Merasa Bersalah?!

safe_image_phpHai, saya kembali nih, dari perburuan akan sesuatu yg baru dan menarik hati, sebelumnya saya ingin menyampaikan bahwa apa yg saya tulis tidak sepenuhnya benar dan mutlak, saya hanya membagi dan sharing tentang sesuatu yg saya pahami bisa memberikan pengembangan dalam pemikiran dan kualitas pembaca di blog ini untuk lebih mengembangkan diri mereka menjadi sosok-sosok yg menginspirasi dan berguna buat diri mereka sendiri dan orang-orang disekitarnya.

“Orang baik tidak merasa bersalah karena mereka terlalu sibuk menjadi orang jahat” :D membaca statemen ini saya jadi berfikir tidak karuan, membuat saya tersenyum dan kesannya kayaknya saya baik dan orang lain itu tidak baik. Yang ada dikepala saya adalah jadi kalau saya merasa bersalah berarti saya baik donk..

Setelah saya telusuri lebih dalam, saya menemukan bahwa kesadaran sangat bermain dalam hal ini, kesadaran dalam hal ini yg saya maksud berasal dari pengetahuan kita akan yg Benar dan Salah (Datang dari ajaran-NYA),

Orang yg memiliki pengetahuan akan ajaran yg benar pastinya tahu betul saat mereka melakukan kesalahan, terkadang walaupun dia tidak tahu akan tapi hati tidak bisa bohong, tetap akan ada perasaan tidak enak dan mengganggu pikiran, membuat kita merasa tidak nyaman dan sepertinya ingin lari dari perasaan itu.

Saat mengetahui bahwa ada sesuatu yg salah ada 2 reaksi yg biasanya terjadi, mengakui kesalahannya dan mencoba memperbaiki keadaan atau mengakui kesalahannya dan tidak melakukan apa2, yg paling penting buat saya adalah individu kita, jangan membiasakan diri mengelabui hati kita dengan pikiran kita, pikiran kita mempunyai kemampuan untuk membohongi diri kita sendiri, terkadang walau kita tahu itu salah tapi karena rasa egois, malu, takut dan harga diri, kita tetap membohongi diri kita sendiri, berdasarkan apa yg saya amati kebanyakan dari sikap ini akan membentuk karakter yg negatif dan tidak stabil, seringnya pada saat masalah datang atau pada saat mereka ingin melakukan kebenaran, mereka sering bingung dan kehilangan dirinya sendiri dalam perjalanannya menuju tanah perjanjian yg selama ini mereka dambakan di hati.

Pastinya saat kita melakukan kesalahan kita juga membawa orang lain dalam keadaan itu selain diri kita, selain kita harus mengakui dan berdamai dgn diri kita sendiri akan kesalahan yg kita buat kita juga harus mengakui dan berdamai dgn orang lain akan kesalahan yg kita sadari, segampang itukah? tentu tidak, ini memerlukan waktu, pembelajaran serta pengertian..

Kenapa kita harus melakukan semua hal itu, tanpa itu hidup jalan terus kok! pertanyaan itu sering keluar dalam pikiran saya, betul hidup jalan terus tapi kapasitas kita tidak akan membesar dan kita tidak akan pernah siap naik ke level berikut pengembangan diri yg lebih baik, memang ini terkesan tidak penting dan melakukannya tidak gampang, tapi ini yg menarik dan menantang, kalau semua hal gampang saja yg kita lakukan, maka kita akan masuk di klub mayoritas (klub kebanyakan orang) cobalah masuk di klub minoritas (klub orang2 berbeda yg menginspirasi)

Bagaimana kalau pilihan yg diambil, mengakui kesalahan tapi tidak berusaha memperbaiki keadaan?  sebelumnya saya harus memberitahu perihal keadaan itu ada 2 typikal keadaan yg bisa kita kontrol dan keadaan yg tidak bisa kontrol, yg paling pasti yg bisa kita kontrol adalah diri kita dan keharusan yg mesti kita lakukan untuk memperbesar kapasitas diri kita yaitu memperbaiki diri kita dan untuk mengembalikan berkat pemahaman yg di berikan Sang Maha Kuasa kepada kita adalah membantu memperbaiki orang lain dan hubungan kita dengan orang lain.

Bagaimana kalau orang lain itu tidak bisa menerimanya? pada saat kita berusaha dan mencoba yg terbaik yg kita bisa saat itu bukan berarti kita tidak bisa mencoba yg terbaik nanti di masa yg akan datang, tidak semua usaha yg kita berikan saat ini bisa memperbaiki keadaan dan tidak berarti kita harus memaksakan kehendak kita karena kita tahu bahwa seharusnya dia bisa menerima pengakuan kita dan harus memaafkan kita, semua orang perlu waktu dan skala toleransi yg berbeda2.

Bagaimana kalau saya berada di posisi yg dirugikan dan disakiti? sama aja, kita juga harus bisa mengakui perasaan itu dan belajar memperbaiki keadaan, saya yakin semua orang ingin solusi, tapi harga diri, perbedaan, ketidaksadaran kedua belah pihak, ketidak sensitifan dll sering membuat sesuatu yg di namakan “komunikasi” tidak di pergunakan lagi dgn baik dan benar.

“Tanpa komunikasi sudah tidak ada lagi kehidupan” saya ingat sekali statetment ini, yg saya pelajari dari sebuah film, bagaimana caranya 2 orang atau lebih bisa saling tahu apa yg mereka rasakan dan apa yg mereka inginkan kalau tidak ada komunikasi, terkadang hal kecil saja bisa mengakibatkan perseteruan sepanjang tahun karena tidak mau komunikasi, bukan buat siapa2 kok, buat diri anda sendiri, dan juga dalam memperbesar kapasitas anda, tapi seringnya orang akan melihat skala of prioritas dalam hal ini, kalau mereka merasa tidak perlu dalam artian tidak membantu mereka mencapai tujuannya, mereka tidak akan berusaha akan hal ini, semua kembali pada pilihan.

Melalukan hal2 yg benar, mungkin terasa sepele dan susah dalam pelaksanaannya, tetapi hanya cara ini yg bisa membantu kita memperbesar kapasitas kita, ibarat gelas yg sudah penuh, pilihannya adalah menumpahkan isinya untuk mengisinya lagi atau memperbaharuinya dengan wadah yg lebih besar.

Menurut legacy yg pernah saya dengar, kalau berkat itu diberikan sesuai dgn kapasitas seseorang, mungkin maksudnya, tugas kita adalah belajar memperbesar kapasitas kita dan melakukannya, sebelum kita meminta dan meminta lebih baik kita melatih diri dgn memberi makan hal2 yg baik dan berguna buat pengembangan diri kita, tidak semua orang mendapatkan apa yg mereka inginkan, tapi pilihannya bagaimana menjalani apa yg ada dengan sukacita.

Saya ucapkan terimakasih buat yg menyempatkan membaca tulisan saya, sekali lagi saya sampaikan saya blum tentu benar, ini hanya share yg kalau anda tidak setuju anda berhak untuk tidak mempercainya.. kalau istilah yg sering dipakai “Percaya sama Tuhan”

“Setiap orang adalah pembawa pesan”

7-the-blessed-doers_001-186x186

foto by Google


1 teman anda menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?

Responses -

Bener bgt tuh, Q stuju. Thnx tas inspirasinya, mudah2n Q bs mngakui ksalahan&prbaikinya. amin

SIP bang… nitp jempol lagi ane….

Bener2 suka sama tulisan kk yg ini.
Simple, nyata di khdupan manusia setiap hari, dan mudah dipahami malah lebih cenderung *gw banget nih* hehehe
Semoga hidup kita jadi lebih baik.
Amiin.

ternyata Om Deny bukan cuma handal di lapangan,tapi juga hebat sebagai penulis

mantap…

thanks sharingannya kak :D
bagus dan masuk ke pokok masalah

Setuju sekali mass…

Salut saya dengan tulisan mas Denny :)

karna orang bodoh selalu merasa dirinya paling benar.

ok saya setuju dengan artikel yang anda buat orang baik pasti akan mengakui kesalahanya tanpa harus mencari kambing hitam untuk menyelamatkan dirinya dari kesalahan yang dia buat ,kalau orang banyak baca artikel anda suasana dikerjaan saya mungkin akan lebih enjoy karena ditempat saya kerja orang hanya mencari kesalahan orang saja tanpa mau intropeksi diri sendiri

“berkat diberikan sesuai kapasitas seseorg”

masuk akal. kalo wadahx besar kan daya tampungx jg besar..hmm..like it.

Denny sumargo emang keren…

keep to share maz,, lanjut trusss

tulisan yang benar” inspiratif . . .
saat membacanya saya tersadar dan seperti mendapat pencerahan dalam hidup sya . .
“Perbesar kapasitas kita dengan melakukan hal yang baik” . .

salut buat seorang denny sumargo . .
dtunggu tulisan” berikutnya . . .

Nice, :)

only :)

top bgtzzz !!

A `lil bit confused wif d` 1st paragraf, but still good as usual

suatu nasehat yang baik untuk jadi penuntun dalam menjalani kehidupan.

\ternyata Om Deny bukan cuma handal di lapangan,tapi juga hebat sebagai penulis\

lucu juga ya kalau dipanggil Om :D

indeed, sikap hati yang menentukan bagaimana situasi mempengaruhi kita. its back to our choice! :)

memang perasaan itu timbul ketika tindakan tidak selajan dengan hati nurani kita

thank you gan,,, bner bgt kata lo..,,

Leave a response -

Your response:


Categories